Lalu


Pada pagi yang masih basah
oleh langkah-langkah yang belum bernama
aku belajar mengeja namamu
seperti doa yang tak pernah tamat—
perlahan, rapuh, dan selalu gugur
sebelum sempat sampai.

Aku masih menyimpan harapan
di lipatan-lipatan malam,
bahwa mungkin esok
kau dan aku bisa kembali duduk berdekatan,
membicarakan hal-hal kecil
yang dulu tak pernah kita jaga
dengan cukup hati-hati.

Seandainya hujan
mengerti bagaimana dua rintik
ingin jatuh berdampingan,
ia mungkin tak akan turun tergesa-gesa
dan membiarkan satu rintik
kehilangan jejak rintik lainnya.

Seandainya waktu
tidak begitu pelit
membagi detiknya,
dua hati yang tersesat
mungkin sudah duduk bersebelahan
di bangku yang sama,
membiarkan diam
berbicara lebih jujur dari bibir.

Betapa ganjil, 

ketika semua tanda hampir kupahami
ada yang tiba-tiba menguap
dari sela genggaman—
seperti kabut yang memilih hilang
tepat saat hendak disentuh
di tengah jalan yang hampir bertemu,
padahal keberanian
kadang cuma selangkah lebih jauh
dari kehilangan yang paling diam?

Maka ia melepaskan bayang itu perlahan,
setenang daun tua
yang menyerahkan nasibnya pada angin
pasrah dibawa ke mana pun,
tanpa bertanya lagi
apa yang pernah menjadi miliknya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Halaman yang Tak Selesai

Tanda