Perihal Halaman yang Tak Selesai

Di atas meja kayu, sebuah halaman terbuka: satu sudut yang kau lipat, dulu, sebelum musim bertukar warna. Seseorang menunggu tanganmu menjadi badai; yang merobek seluruh bab sunyi ini, yang lancang membawanya lari, meski harus lumat dalam cuaca yang tak pasti.

Tapi kau datang hanya untuk menyeka debu. Kau tersenyum, kau sebut hormat atas tatanan yang tak ingin kau ganggu. Padahal di seberang sana, kau sedang membuka lembar-lembar baru dengan judul yang sama.


Kau hanya ingin tahu: apakah kau masih satu-satunya penghuni di sana, sebelum kau menutup pintu, dan memadamkan lampu selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lalu

Tanda