Di sebuah sudut di mana waktu seolah berhenti berdenyut, hanya ada bayangan yang memanjang tanpa pemilik. Rindu itu menjelma arloji yang jarumnya patah tepat di angka yang paling sunyi, berdetak namun tak bergerak, menyimpan rahasia di balik kaca yang mulai buram oleh napas kecemasan.

Di atas bangku kayu yang melapuk dimakan gerimis, ada sisa kehangatan yang tak sempat dikemas. Semuanya hanyalah sebuah sandiwara pura-pura; tentang angin yang bersiul seolah tak ada beban yang jatuh, tentang langit yang tetap membiru padahal menyimpan badai di balik rusuknya.

Ombak datang menyapu jejak-jejak kaki di pasir, seperti sebuah penghapusan yang paling tulus sekaligus paling kejam. Biarlah pasang itu membawa pergi segala gema yang menyesakkan dada, sebab ketenangan air jauh lebih berharga daripada riak yang bingung mencari dermaga yang sebenarnya sudah lama runtuh.

Di sana, di batas garis cakrawala yang tak pernah tersentuh, sepasang mata air tenang telah memilih untuk mengering. Bukan karena haus yang usai, tapi agar tanah yang dipijak tak lagi basah oleh keraguan yang menggantung. Hanya ada ketakutan yang merayap seperti lumut di dinding tua, menjaga agar sunyi tetap menjadi rahasia yang damai diantaranya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lalu

Perihal Halaman yang Tak Selesai

Tanda